Happy Avhy Dimension
Selasa, 24 Januari 2012
Minggu, 22 Januari 2012
Selasa, 17 Januari 2012
kelas 8.3 5 Siak Junior High School
Dear My blog..
nama ku,LhiLys Novhiani. Aku seorang pelajar yang baru saja memulai aktifitas blogging.
ini adalah beberapa kisah dari ku,sekedar untuk berbagi kepada teman teman blogging lainnya.
aku masih duduk dikelas 2 Junior High School. Sekolah ku bernama 5 Siak Country Junior High School.
entah karena apa, aku bisa terdampar dikelas yang sangat aneh. Nano-nano. karakter mereka unik unik. Ditambah lagi,orang nya kocak and gokil gokil. berikut ke27 teman sekelas ku itu.
nama ku,LhiLys Novhiani. Aku seorang pelajar yang baru saja memulai aktifitas blogging.
ini adalah beberapa kisah dari ku,sekedar untuk berbagi kepada teman teman blogging lainnya.
aku masih duduk dikelas 2 Junior High School. Sekolah ku bernama 5 Siak Country Junior High School.
entah karena apa, aku bisa terdampar dikelas yang sangat aneh. Nano-nano. karakter mereka unik unik. Ditambah lagi,orang nya kocak and gokil gokil. berikut ke27 teman sekelas ku itu.
- Abdul Arif : nih orang, gak terlalu gokil sich. tapi aneh. berbadan kecil,putih,bisa dibilang imut;tcuih.
- Ahmad (tho') : biasanya,kami mengganggunya yah usil usil nabokin jidadnya. coz,tuh jidad mirip lapangan bola. luwes banget. kedua tepinya mengkilap lagi. waaah,kalo mau ngeliat jidadnya, musti siapin kaca mata hitam ^_^
- Angelica Cicilia Dasilva : kalo yang satu ini,lebih afdol kita panggil anak mami. kenapa ? yah pastinya karena manjaa amat. padahal,badannya gede',tapi ternyata oh ternyata keinjek kakinya doank pasti mewek. Orang nya juga pelit.
Label: SCHOOL HIGH
Jumat, 13 Januari 2012
materi
Synopsis
novel LASKAR PELANGI Karangan Andrea Hirata.
Sinopsis Laskar Pelangi
tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di Belitung yang penuh dengan keterbatasan. Mereka adalah:
- Ikal aka Andrea Hirata
- Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
- Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
- Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
- A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
- Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
- Kucai; Mukharam Kucai Khairani
- Borek aka Samson
- Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
- Harun; Harun Ardhli Ramadan bin Syamsul Hazana Ramadan
Mereka
bersekolah dan belajar pada kelas yang sama dari kelas 1 SD sampai kelas 3 SMP, dan menyebut diri mereka
sebagai Laskar Pelangi. Pada bagian-bagian akhir cerita, anggota Laskar Pelangi
bertambah satu anak perempuan yang bernama Flo, seorang murid pindahan.
Keterbatasan yang ada bukan membuat mereka putus asa, tetapi malah membuat
mereka terpacu untuk dapat melakukan sesuatu yang lebih baik.
Cerita
terjadi di desa Gantung, Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mencapai
siswa baru sejumlah 10 anak. Ketika itu baru 9 anak yang menghadiri upacara
pembukaan, akan tetapi tepat ketika Pak Harfan, sang kepala sekolah, hendak
berpidato menutup sekolah, Harun dan ibunya datang untuk mendaftarkan diri di
sekolah kecil itu.
Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah.
Mereka,
Laskar Pelangi - nama yang diberikan Bu Muslimah akan kesenangan mereka
terhadap pelangi - pun sempat mengharumkan nama sekolah dengan berbagai cara.
Misalnya pembalasan dendam Mahar yang selalu dipojokkan kawan-kawannya karena
kesenangannya pada okultisme yang membuahkan kemenangan
manis pada karnaval 17 Agustus, dan kejeniusan luar biasa
Lintang yang menantang dan mengalahkan Drs. Zulfikar, guru sekolah kaya PN yang
berijazah dan terkenal, dan memenangkan lomba cerdas cermat. Laskar Pelangi
mengarungi hari-hari menyenangkan, tertawa dan menangis bersama. Kisah sepuluh
kawanan ini berakhir dengan kematian ayah Lintang yang memaksa Einstein cilik
itu putus sekolah dengan sangat mengharukan, dan dilanjutkan dengan kejadian 12
tahun kemudian di mana Ikal yang berjuang di luar pulau Belitong kembali ke kampungnya.
Kisah indah ini diringkas dengan kocak dan mengharukan oleh Andrea Hirata, kita bahkan bisa merasakan semangat masa
kecil anggota sepuluh Laskar Pelangi ini.
Tema :
Pendidikan,perjuangan,persahabatan.
Penokohan :
- Ikal aka Andrea Hirata
- Lintang; Lintang Samudra Basara bin Syahbani Maulana Basara
- Sahara; N.A. Sahara Aulia Fadillah binti K.A. Muslim Ramdhani Fadillah
- Mahar; Mahar Ahlan bin Jumadi Ahlan bin Zubair bin Awam
- A Kiong (Chau Chin Kiong); Muhammad Jundullah Gufron Nur Zaman
- Syahdan; Syahdan Noor Aziz bin Syahari Noor Aziz
- Kucai; Mukharam Kucai Khairani
- Borek aka Samson
- Trapani; Trapani Ihsan Jamari bin Zainuddin Ilham Jamari
- Harun; Harun Ardhli Ramadan bin Syamsul Hazana Ramadan
- Ikal : Tokoh 'aku' dalam cerita ini. Ikal yang selalu menjadi peringkat kedua memiliki teman sebangku bernama Lintang, yang merupakan anak terpintar dalam Laskar Pelangi. Ia berminat pada sastra, terlihat dari kesehariannya yang senang menulis puisi. Ia menyukai A Ling, sepupu dari A Kiong, yang ditemuinya pertama kali di sebuah toko kelontong bernama Toko Sinar Harapan. Pada akhirnya hubungan mereka berdua terpaksa berakhir oleh jarak akibat kepergian A Ling ke Jakarta untuk menemani bibinya.
- Lintang : Teman sebangku Ikal yang luar biasa jenius. Ayahnya bekerja sebagai nelayan miskin yang tidak memiliki perahu dan harus menanggung kehidupan 14 jiwa anggota keluarga. Lintang telah menunjukkan minat besar untuk bersekolah semenjak hari pertama berada di sekolah. Ia selalu aktif di dalam kelas dan memiliki cita-cita sebagai ahli matematika. Sekalipun ia luar biasa pintar, pria kecil berambut merah ikal ini pernah salah membawa peralatan sekolahnya. Cita-citanya terpaksa ditinggalkan agar ia dapat bekerja untuk membiayai kebutuhan hidup keluarganya semenjak ayahnya meninggal.
- Sahara : Satu-satunya gadis dalam anggota Laskar Pelangi. Sahara adalah gadis keras kepala berpendirian kuat yang sangat patuh kepada agama. Ia adalah gadis yang ramah dan pandai, ia baik kepada siapa saja kecuali pada A Kiong yang semenjak mereka masuk sekolah sudah ia basahi dengan air dalam termosnya.
- Mahar : Pria tampan bertubuh kurus ini memiliki bakat dan minat besar pada seni. Pertama kali diketahui ketika tanpa sengaja Bu Muslimah menunjuknya untuk bernyanyi di depan kelas saat pelajaran seni suara. Pria yang menyenangi okultisme ini sering dipojokkan teman-temannya. Ketika dewasa, Mahar sempat menganggur menunggu nasib menyapanya karena tak bisa ke manapun lantaran ibunya yang sakit-sakitan. Akan tetapi, nasib baik menyapanya dan ia diajak petinggi untuk membuat dokumentasi permainan anak tradisional setelah membaca artikel yang ia tulis di sebuah majalah, dan akhirnya ia berhasil meluncurkan sebuah novel tentang persahabatan.
- A Kiong : Anak Hokian. Keturunan Tionghoa ini adalah pengikut sejati Mahar sejak kelas satu. Baginya Mahar adalah suhunya yang agung. Kendatipun pria kecil ini berwajah buruk rupa, ia memiliki rasa persahabatan yang tinggi dan baik hati, serta suka menolong pada siapapun kecuali Sahara. Namun, meski mereka selalu bertengkar, ternyata mereka berdua saling mencintai satu sama lain.
- Syahdan : Anak nelayan yang ceria ini tak pernah menonjol. Kalau ada apa-apa dia pasti yang paling tidak diperhatikan. Misalnya ketika bermain sandiwara, Syahdan hanya kedapatan jadi tukang kipas putri dan itupun masih banyak kesalahannya. Syahdan adalah saksi cinta pertama Ikal, ia dan Ikal bertugas membeli kapur di Toko Sinar Harapan semenjak Ikal jatuh cinta pada A Ling. Syahdan ternyata memiliki cita-cita yang tidak pernah terbayang oleh Laskar Pelangi lainnya yaitu menjadi aktor. Dengan bekerja keras pada akhirnya dia menjadi aktor sungguhan meski hanya mendapatkan peran kecil seperti tuyul atau jin... Setelah bosan, ia pergi dan kursus komputer. Setelah itu ia berhasil menjadi network designer.
- Kucai : Ketua kelas sepanjang generasi sekolah Laskar Pelangi. Ia menderita rabun jauh karena kurang gizi dan penglihatannya melenceng 20 derajat, sehingga jika ia menatap marah ke arah Borek, maka akan terlihat ia sedang memperhatikan Trapani. Laki-laki ini sejak kecil terlihat bisa menjadi politikus dan akhirnya diwujudkan ketika ia dewasa menjadi ketua fraksi di DPRD Belitong.
- Borek : Pria besar maniak otot. Borek selalu menjaga citranya sebagai laki-laki macho. Ketika dewasa ia menjadi kuli di toko milik A Kiong dan Sahara.
- Trapani : Pria tampan yang pandai dan baik hati ini sangat mencintai ibunya. Apapun yang ia lakukan harus selalu didampingi ibunya, seperti misalnya ketika mereka akan tampil sebagai band yang dikomando oleh Mahar, ia tidak mau tampil jika tak ditonton ibunya. Cowok yang bercita-cita menjadi guru ini akhirnya berakhir di rumah sakit jiwa karena ketergantungannya terhadap ibunya.
- Harun : Pria yang memiliki keterbelakangan mental ini memulai sekolah dasar ketika ia berumur 15 tahun. Laki-laki jenaka ini senantiasa bercerita tentang kucingnya yang berbelang tiga dan melahirkan tiga anak yang masing-masing berbelang tiga pada tanggal tiga kepada Sahara dan senang sekali menanyakan kapan libur lebaran pada Bu Muslimah. Ia menyetor 3 buah botol kecap ketika disuruh mengumpulkan karya seni kelas enam.
Tokoh-tokoh Lain
- Bu Muslimah : Bernama lengkap N.A. Muslimah Hafsari Hamid binti K.A. Abdul Hamid. Dia adalah Ibunda Guru bagi Laskar Pelangi. Wanita lembut ini adalah pengajar pertama Laskar Pelangi dan merupakan guru yang paling berharga bagi mereka.
- Pak Harfan : Nama lengkap K.A. Harfan Efendy Noor bin K.A. Fadillah Zein Noor. Kepala sekolah dari sekolah Muhammadiyah. Ia adalah orang yang sangat baik hati dan penyabar meski murid-murid awalnya takut melihatnya.
- Flo : Bernama asli adalah Floriana, seorang anak tomboi yang berasal dari keluarga kaya. Dia merupakan murid pindahan dari sekolah PN yang kaya dan sekaligus tokoh terakhir yang muncul sebagai bagian dari laskar pelangi. Awal pertama kali masuk sekolah, ia sempat membuat kekacauan dengan mengambil alih tempat duduk Trapani sehingga Trapani yang malang terpaksa tergusur. Ia melakukannya dengan alasan ingin duduk di sebelah Mahar dan tak mau didebat.
- A Ling : Cinta pertama Ikal yang merupakan saudara sepupu A Kiong. A Ling yang cantik dan tegas ini terpaksa berpisah dengan Ikal karena harus menemani bibinya yang tinggal sendiri.
Alur : Maju
Mundur.
·
Maju : Dari pertama masuk SD, hingga kelas 3
SMP di Muhammadyah Gatung. Lalu ikal merantau kepulau jawa, menjadi tukang pos.
Tidak sengaja mengikuti seleksi beasiswa pendidikan kuliah ke Eropa. Setelah
berhasil, ia berkuliah di Sorbonne University.
o Mundur
: Ketika Ikal(aku) kembali ke Belitong, ia menceritakan kembali keadaan
Belitong dahulu. Dan ketika bertemu dengan Lintang. Ia menceritakan kembali
Lintang yang dulunya pintar,jenius,dan cerdas.
Latar :
Tempat : Kepulauan
Belitong, desa gatung. SD Muhammadyah.
Tangerang,
Banten.
Sorbonne
University,Paris,Perancis.
Sudut Pandang : 3, Aku, Dia, dan Mereka.
Gaya bahasa : Bahasa tidak baku, mudah dimengerti, dan bahasa yang sudah biasa
digunakan di masyarakat Meayu.
Amanat : Mengajarkan tentang semangat ,persahabatan, agar kita tidak berputus
asa. Hingga pendidikan akan membawanya kemasa depan yang cerah.
Label: SCHOOL HIGH
Kamis, 29 Desember 2011
Cerpen Remaja islam
Sahabat dunia akhirat
Dipagi yang cerah itu, suara kokokkan ayam jantan milik tetangga ku, berkokok dengan lantang nya, membangun kan ku dari tidur ku yang lelap. Cahaya matahari yang menyusup masuk melalui celah-celah kecil tirai jendela kamar ku.
“Matii ! Sekolah!” Jerit ku sambil belari menuju kamar mandi, dan bersiap siap kesekolah.
“Telat terus kamu Ukthi !” Omel kakak ku kepada ku.
“Afwan lha, Thi tadi lupa pasang alarm” Alasan ku kepada Kak Hakim, kakak semata wayang ku itu.
“Banyak aja alasan tu. Thi, papa mana?” Tanya Kak Hakim kepada ku.
“Ntaah lah! Papa gak mau pulang mungkin, udah betah sama istri barunya.” Jawab ku dengan nada sedikit membentak.
Kak Hakim hanya diam, dia mungkin tidak dapat memarahi ku kali ini, karena dia juga tau, papa memang begitu semenjak bertemu dengan wanita gak benar itu.**
Pagi itu, ku duduk termenung ditengah kegaduhan ruang kelas ku. Tiba tiba ku tersadar dari lamunan ku, ketika bapak wali kelas ku memasuki ruang kelas sambil memukul tivi kelas(papan tulis) untuk menghentikan kegaduhan dikelas XI.1 IPA SMA 2 karya itu.
Dengan suara tegas bapak itu berkata,”Harap tenang !”. kumis tebal nya bergerak naik turun saat ia berbicara, dan itu membuat kami satu kelas menahan tawa diperut kami, yang membuat perut kami sakit.
Lepas dari itu, bapak wali kelas kami mempersilahkan seorang siswa yang asing bagi ku. Mungkin dia siswa baru.
“Nah anak- anak, kalian kedatangan teman baru dikelas ini. Dia pindahan dari SMA Binaan Karya 1. Nah nak, silahkan kenal kan diri mu.” Kata Pak Bagyo kepada siswa baru itu.
“Assalammu’alaikum, ukhti dan akhi.” Kata siswa baru itu.
Jujur saja, kenapa dia tau nama ku ? Hei! Bukan kah dia siswa baru, tapi kenapa dia tau ya ? Hehe.. Tentu lah, kawan, ukthi itu kan sebutan saudara perempuan didalam bahasa arab.
“Huuuuuuuuu !! sok sok bahasa arab, bahasa inggris aja gak bisa!” Sorak Nimrod anak paling usil dikelas ku, kepada siswa baru itu sambil melempari nya dengan sebuah kertas.
“Nimrod! Jaga mulut kamu! Kamu bisa sopan tidak ?!” Bentak Pak Bagyo kepada Nimrod.
“Ia lah Pak ..” Jawab Nimrod sambil meletak kan bulatan bulatan kertas itu kembali.
“Lanjutkan nak,” Sambung Pak Bagyo kepada siswa baru itu.
“Nama saya Nurhayati Al-Husna. Teman – teman bisa panggil saya Husna.” Kata siswa baru itu dengan lembut.
“Husnaaaaaah ! Hoalaah .. Hahaha ” Cemo’oh Selly kepada siswa baru itu.
Siswa baru itu hanya tersenyum kepada manis Kepada Selly.
“Sudah sudah, tenang! Nah Husna, kamu duduk disana ya, dibangku kosong dibelakang Nuraini.” Perintah Pak Bagyo.
Dia duduk dibelakang ku. Tepat dibelakang ku. Semua anak anak kelas ku mengejek nya dengan kata kata yang super sadis. Aku kasihan kepadanya. Kalau aku jadi dia, akan ku lempar mereka dengan sebuah batu besar, atau akan ku sumpal kan mulut mereka dengan bulatan kertas. Agar mereka diam, dan berhenti mengejek. Tapi, siswa baru ini hanya diam, bukan nya marah, dia malah menebar senyum manisnya kepada anak anak jahil itu. Sungguh sabar nya gadis ini.
Saat jam pelajaran berakhir, semua murid keluar kelas, sambil mengejeki siswa baru itu, ada yang bilang sok baik lah, sok alim lah, bertubi tubi cemo’ohan itu dilontar kan oleh mereka. Tentu lah aku tau bagaimana sakitnya diacuhkan oleh teman teman, karena itu merupakan makanan sehari hari ku. Ia bernasib sama seperti ku. Sejak pertama aku bersekolah disini, tak ada seorang pun diantara mereka yang mau mendekati ku. Mereka selalu mengatai ku egois, sok pintar , jaim lah, sombong, pokok nya semua yang jelek jelek deh.
Saat suasana sudah mulai sunyi, ku beranikan diri ku untuk membalikkan badan ku kearahnya. Kupandangi dia, kelihatan nya dia baik baik saja, tidak ada yang salah dengan nya. Hanya saja, ia mengenakan kerudung yang cukup dalam.
Kuperhatikan, ia manis juga. Dan sepertinya dia ramah. Ku beranikan diriku untuk mengucapkan salam kepadanya.
“Aaassalammu’alaikum.” Sapa ku padanya.
“wa’alaikum salam,” Jawabnya lembut.
“Nama anti siapa ?Tadi kurang jelas, karena gaduh.” Kata ku gugup.
Sambil tersenyum ia mengulurkan tangan nya kepada ku,“Nurhayati Al- Husna. Anti ?”
“ Nuraini Ukhti,panggil aja Ukhti” Jawab ku kepadanya.
Ia tersenyum lebar kepada ku.
“Nama yang bagus, ” Puji nya lembut.
“Syukron! Hehe, nama Husna juga bagus kok!” Kata ku sambil tersenyum senyum malu.”oia, Husna kenapa pindah ? padahal kan SMA Binaan K 1 itu, SMA yang bagus, favorit lagi. Kok pindah kesini sih ? ” Sambung ku pada Husna.
“Mmm.. Husna di D-O Ukhti.” Jawabnya.
“Karena apa? Upps, kalau Ukhti boleh tau aja..?”Tanya ku penasaran.
“Begini, disekolah Husna yang lama, tidak diperbolehkan siswa nya menyambung seragam nya. Membentuk jilbab.Sebenarnya sudah beberapa kali kena tegur,dan akhirnya di D-O. Husna juga nggak sendirian, ada 15 siswa lagi yang di D-O juga bersama Husna.” Jawab nya kepada ku sambil mengeluarkan sebuah buku.
“Kenapa seragam nya disambung ? Buat apa ?” Celoteh ku lagi ingin tau.
Husna hanya tersenyum kepada ku. Lalu ia menyodor kan ku sebuah buku.
“Baca lah, nanti Ukhti tau. Ada disini kok pembahasan nya.” Kata Husna lembut kepada ku.
Aduh, aku kan pemalas. Buku pelajaran aja aku malas membacanya, apalagi buku seperti ini. Tapi, aku hargai niat baik nya. Ku terima saja buku itu.
******
Udara pagi menyusup masuk keseluruh ruangan kamar ku. Menghembuskan aroma bunga lavender yang ku letak kan dibawah jendela kamar ku. Aroma harum bunga itu menjaga kan ku dari tidur ku, ku beringsut turun dari tempat tidur ku, dan membuka jendela . begitu syahdu pagi itu. Tak pernah seumur hidup ku , ku merasa kan seperti ini. Ku balikan badan ku, menuju kamar mandi, bersiap siap untuk pergi kesekolah.
Saat ku merapikan buku buku pelajaran ku, ku lihat buku pemberian Husna kemarin.
“Aakh .. Malas banget baca buku .” Ujar ku didalam hati.
Lalu ku ambil buku itu, dan ku letak kan di meja belajar ku. Ku tinggal kan buku itu, untuk pergi sarapan. Tetapi, langkah ku tiba tiba terhenti, ku berbalik masuk ke kamar ku kembali. Ku perhatikan buku pemberian Husna itu. Lalu ku ambil,dan ku buka lembaran demi lembaran buku itu. Ku rasa tenggorokan ku terasa kering hingga ku langkah kan kaki ku menuju dapur mengambil minum.
“Budhe, mama dimana ?” Tanya ku sambil membuka pintu kulkas.
“Ibu baru saja pergi keluar kota.”Jawab Budhe pada ku.
“Papa ?” Sambung ku lagi.
“Bapak belum pulang. Mungkin ibu pulang seminggu lagi, dan bapak, mungkin nanti malam pulang.” Jelasnya kepada ku.
Tak terasa air mata ku meleleh membasahi pipi ku. Aku termenung membayangkan kebersamaan keluarga ku. Aku ingin sekali keluarga ku berkumpul. Tapi, segera ku tepiskan hal mustahil itu, mengingat kondisi rumah ku yang sedang runyam. Cepat cepat ku hapuskan air mata ku. Ku bersiap diri untuk pergi kesekolah.
Sepanjang perjalanan, aku hanya membolak balik buku itu. Ku baca riwayat penulisnya, cover depan nya, penerbit nya, tetapi ku tidak membaca isi buku itu. Aku bimbang, disuatu sisi aku ingin membaca buku itu, agar ku tau alasan Husna mengapa dia menyambung baju nya. Tapi disisi lain aku malas membaca.
Sesampainya ku disekolah, yah seperti biasa. Aku berjalan sendiri. Karena tak ada yang mau mendekati ku. Hingga tiba tiba Kak Hakim mengejutkan ku dari depan. Dia datang dengan tergesa gesa. Nafas nya tersengal sengal. Keringatnya bercucuran, sehingga membuat kemeja yang dikenakannya basah.
“Heeeeh.. heeeh.. heeeh.. Thi, heeh.. heeh.. Thi, Mama !” Kata kak Hakim pada ku dengan nafas yang tersengal sengal. Jujur saja aku bingung apa yang dimaksud Kak Hakim. Lalu ku suruh ia beristirahat sejenak, meminum aqua gelas. Dia melanjutkan kata katanya dengan isak tangis. Ada apa ini ? Ternyata dia datang, untuk menjemputku. Dia menyampaikan kabar bahwa Mama kecelakaan. Sontak aku langsung histeris, ku berlari menuju mobil. Untuk melihat Mama.
Saat ku sampai disebuah rumah sakit islam itu, ku bingung akan apa yang ku lakukan. Karena paniknya aku, aku menjatuhkan vas bunga dimeja administrasi. Ya allah, aku memang benar benar panik. Aku sayang dengan Mama. Aku tak ingin kehilangan nya.
Ku dapati Mama terbaring kaku di kamar rumah sakit, dengan selang infus ditangan kiri nya. Mama hanya tidur. Ku peluk Mama dengan erat. Karena pelukan ku yang erat, membuat Mama bangun dari tidurnya.
“Ukhti.. Sakit Mamanya” Kata Mama.
“Ukhti takut kehilangan Mama! Mama jangan sakit!” Teriak ku disertai air mata.
“Iya, Mama sama Ukhti ” Jawab Mama pelan.
Tangis meramaikan suasana kamar itu. Saat ku sedang menemani Mama yang tertidur, ku diam memandanginya. Ku merasa suntuk, dan ku ingat, buku pemberiaan Husna kemarin. Kali ini ku tidak lagi menunda nunda, langsung ku buka lembaran pertama, ku baca ayat ayat suci Allah yang dituliskan diawal buku itu. Lembar demi lembar telah ku baca. Tiba tiba terdengar suara merdu azan Magrib berkumandang. Hati ku bergetar. Langsung terpikir oleh ku akan dosa dosa ku telah meninggalkan sholat. Ku bersegera menuju musshola rumah sakit, dan menunaikan sholat magrib itu bersama Kak Hakim, yang telah datang terlebih dahulu.
Selesai sholat magrib, ku sempat kan untuk membaca mushaf mushaf Allah bersama kak Hakim. Tiba tiba saja beban dipikiran ku hilang begitu saja. Hati ku terasa tentram. Jiwa ku damai mendengarkan lantunan ayat ayat suci itu. Rasanya ku ingin menghabiskan waktu ku dengan membaca ayat ayat suci itu. Tetapi, Mama sendirian. Aku harus menemani Mama.
Saat saat ku menemani Mama, ku lanjut kan membaca buku pemberian Husna itu. Banyak hal yang tidak ku mengerti. Mungkin karena ku tidak pernah mengetahui lebih dalam tentang agama ku. Ku catat hal hal yang tidak ku mengerti, agar bisa ku tanyakan kepada Husna.
*******
Dari buku itu ku mempelajari banyak hal. Saat ku kembali bersekolah,Ku Tanya kan semua hal yang tidak ku mengerti pada Husna. Semakin hari rasa ingin tahu ku semakin bertambah. Dan ku lalui hari hari ku bersama Husna. Husna menjelaskan kepada ku dengan detil hingga ku mengerti dan paham.
Bersama Husna aku belajar banyak. Aku sedikit sedikit mulai paham akan agama ku. Rasa sedih ku sedikit demi sedikit mulai terobati dengan kehadiran Husna. Ia adalah adalah teman yang baik. Aku menjadikan nya sahabat ku. Ia adalah sahabat yang mau memberikan ku solusi dan motivasi akan segala keluhan ku. Dia juga sering memberi ku buku buku tentang islam. Ternyata , dari buku buku itu aku bisa paham, bahwa ISLAM adalah solusi terbaik dari berbagai solusi. Islam itu ternyata tidak serumit yang ku pikirkan. Islam itu indah.
*********
Sore itu, aku berencana akan pergi kepasar membeli baju. Tetapi tiba tiba ban sepeda motorku bocor, terpaksa aku dorong motor itu pulang, dan menunggu bus di halte dekat rumah ku.
Berjam jam ku menunggu bus dihalte itu. Kulihat lihat kiri dan kanan , berharap akan ada bus yang datang.
“Heeee.. bus nya mana sih ?” Keluh ku dengan kesal.
Sembari menunggu ku kembali membaca buku pemberian Husna. Sedikit butuh waktu yang lama untuk ku dapat memahami buku ini. Ditambah lagi, aku yang jarang mengkaji tentang agama ku.
Bacaan ku sudah hampir selesai, tiba tiba terdengar suara memanggilku, aku kaget. Segera ku tutup buku itu. Aku takut itu suara seseorang yang akan menyampaikan kabar buruk lagi padaku.
Ku lihat keasal suara yang memanggil ku itu. Ooh! Ternyata Husna. Dia telah memasang senyum lebarnya disamping ku. Bukanya aku kaget karena kehadirannya, tapi aku kaget karena dia membawa sepeda. Kerumah ku ?! Ya ampun, setahu ku rumah Husna jauh dari rumah ku. Kuat sekali dia , mengayuh tungkai sepeda jandanya sejauh 8 km.
“Assalammu’alaikum Ukhti !” Salamnya kepada ku.
“Wa’alaikum salam …” Jawab ku.
“Mau kemana ? kok kelihatan bingung banget ?” Sambung Husna kepada ku.
“Hmmm .. mau kepasar, kamu ?” Jawab ku pada Husna.
“Mmmm, aku ? Mau ngaji .. Ikut yuk ? sama sama ngaji ? Ntar Husna temenin kepasar deh.?” Rayu Husna kepada ku dengan gaya nya yang khas.
“Mmm ? Naik sepeda ? Ngaji ?” Tanya ku heran.
“Ia ia lah ? Terus mau naik apa lagi ? Naik kuda lumping ? Hehehe..” Jawab Husna sambil tertawa kecil.
“Aich, yakin kuat ? Ngaji nya dimana ?” Tanya ku lagi.
“Tu, di mesjid sana” Jawab Husna sambil menunjuk arah selatan ku.
Ya ampun, yang benar saja, mesjid itu sangat jauh ! Mau kesana menggunakan sepeda ? Seperti khayalan aku akan ikut bersama nya.
“Yuuuk ?” Bujuk Husna kepada ku.
“Yakin pake sepeda ?” Tanya ku lagi dengan ragu.
“Iya, percaya aja deh ! Bisa kok ! Allah pasti akan membantu hambanya yang ingin berjuang dijalan nya..” Jawab Husna meyakin kan ku.
Akhirnya aku ikut bersama nya. Sungguh tegar iman Husna. Ia rela meluangkan waktunya, menguras tenaga nya untuk pergi mengaji. Sholehah benar dia ini. Ditengah perjalanan, tiba tiba terdengar suara derikan keras yang berasal dari sepeda Husna. Aku kaget, suara apa itu, aku langsung melompat turun dari goncengan belakang sepeda Husna. Kami pun berhenti dibawah teduhnya pohon akasia.
“Ih, suara apa tu Hus ?” Tanya ku bingung .
“Gak tau juga ni Thi, ” Jawab Husna kebingungan.
Ternyata, rantai sepeda Husna putus. Ya ampun, kenapa putus nya disini sih ? kok bisa putus ya ? Aku hanya terdiam. Aku duduk terpaku ditepi jalan, melihat Husna yang gigih memperbaiki sepeda nya.
“Hus, Ukhti gak pake kerudung do ? Gimana ni ?” Tanya ku, sambil memperhatikan nya.
“Tenang aja, Husna bawa kerudung lagi kok, Thi pake kerudung Husna aja..” Jawab nya sambil menebar senyum kepada dan menghapuskan keringatnya.
“Oia, maaf Thi gak bantu ya, Thi gak ngerti kalo masalah kaya ginian ?” Kata ku sambil memberi Husna minuman dingin.
“Oh, ya ampun, Alhamdulillah .. terimakasih ya Thi..” Kata Husna sambil meneguk minuman dingin tadi.
“Iya, gak apa kok. Ini nama nya perjuangan. Kalo kaya gini, Husna senang Ukhti .. Husna mendapat cobaan disaat Husna dalam perjalanan mau pergi ngaji. Husna senang banget !” Sambungnya lagi.
Husna hanya tersenyum kepada ku. Kali ini, aku betul betul heran sekaligus kagum pada Husna. Dimana mana, orang pasti akan mengumpat jika mendapat cobaan dijalan. Tetapi Husna malah bersyukur, dan senang.
“Kok Husna senang sih ? Kan seharusnya sedih ..” Tanya ku keheranan.
“Iya iya lah Husna senang, ini nama nya perjuangan dijalan Allah .. Nah, kalo kita sedang diperjalanan menuju sesuatu yang baik, itu dinilai pahala oleh allah, kita sudah berniat saja, itu sudah dihitung pahala. Dan apalagi, kalau seseorang itu meninggal ketika berjuang akan menuju tempat dia akan menuntut ilmu Allah, dia akan dianggap syahid Ukhti.. Maha pemurah Allah itu , dari sesuatu yang kecil saja, sudah dihitung pahala.. Iya kan ?” Jelas Husna kepada ku.
Aku kagum akan Husna. Baru kali ini aku mendapat teman yang seperti dia. Dia bagai penerang hidup ku. Dia mengajarkan ku, dan menunjukkan ku sesuatu yang sebelumnya belum pernah ku ketahui. Ya Allah, terimakasih atas rahmat mu Ya Allah, engkau telah memberikan ku sahabat yang baik, dan membawa ku kejalan yang benar.
Aku memandangi wajah polos Husna terus menerus. Keringatnya bercucuran, membasahi wajah mulusnya. Ia selalu tersenyum. Padahal, tangan nya sudah hitam terkena oli.
“Taaaaarrrraaaaa ! Finish deh!” Kata Husna mengagetkan ku.
“Sudah siap ?” Tanya ku pada nya.
“Sudah, yuk berangkat.” Jawab nya.
Aku dan Husna pun melanjutkan perjalanan ku menuju mesjid.
“Yuk masuk. ” Kata Husna sambil menarik tangan ku.
“Malu Na, Thi pake celana jeans ?” Kata ku sambil menarik lagi tangan ku.
Aku merasa malu. Para muslimah muslimah yang lain mengenakan rok dan pakaian yang serba longgar, sedangkan aku mengenakan celana jeans super ketat, dan baju kaus yang nge-pas dibadan ku.
“Maka nya, besok besok, jangan mengenakan pakaian ini lagi. Jadi kalo Husna ngajak Ukhti ngaji mendadak, Ukhti siap. Lagi pula, Ukhti gak sesak nafas pake celana dan pakaian yang ketat seperti itu ?” Tanya Husna kepada ku, sambil membuka sepatunya.
Aku merasa malu. Aku benar benar malu. Rasanya aku sangat menyesal membeli pakaian seperti ini. Tapi, untuk sekali ini, aku berani kan diri ku untuk masuk.
Para muslimah yang lain memerhatikan ku. Mungkin mereka merasa aneh dengan pakaian ku. Wajar saja. Hanya aku yang mengenakan pakaian ketat didalam mesjid ini.
Saat ku mendengar suara Husna mengaji, aku merasakan ada sesuatu hal yang dulu pernah hilang dari diri ku, dan datang kembali saat ku mendengar Husna melantun kan ayat ayat suci didepan kumpulan para muslimah. Suaranya sungguh indah. Hati ku langsung bergetar mendengarnya. Jiwa ku serasa tentram. Dan aku merasakan semua masalah masalah ku telah terselesaikan. Disaat Husna menyebut nama Allah, tiba tiba jantung ku berdetak kencang. Nafas ku mulai tidak teratur. Bayangan bayangan akan dosa ku muncul didepan mata ku. Sosok Papa yang nakal tiba tiba datang, Mama yang menangis, dan Kak Hakim yang ugal ugalan. Semua bayangan itu muncul didepan mata ku. Aku merasakan suatu getaran yang sungguh dahsyat. Dan tiba tiba, aku meneteskan air mata ku.
“Kenapa menangis, ukhti ?” Tanya salah seorang jema’ah kepada ku.
“La, hanya teringat akan dosa ..” Jawab ku sambil menghapus air mata ku.
Jema’ah tadi tersenyum kepada ku. Lalu ia memberikan ku sebuah al-Qur’an kecil.
“Ini, dibaca ya ? Ini buat ukhti.” Kata jema’ah itu dengan manis kepada ku.
“Ya Allah, syukron ukhti ?” Kata ku dengan senang.
“Wa iya ki.” Jawab jema’ah itu sambil tersenyum lagi kepada ku.
Entah kenapa, saat aku diberikan sebuah Al-Qur’an mini itu, hati ku terasa sumbringah.Lalu, saat seorang udstazah sedang beerceramah didepan, aku tiba tiba berlari keluar. Aku berlari menuju termpat berwudhu. Ku basuh wajah ku dengan air wudhu ku. Lalu ku kembali memasuki mesjid.
Hati ku kembali bergetar saat udstazah itu membaca kan potongan ayat ayat suci yang menjelaskan tentang hukum bagi wanita, yang wajib menutup auratnya. Jujur saja, air mata ku langsung mengalir deras. Aku benar benar menyesal.
Sepulangnya dari pengajian itu, Husna mengantarkan ku kepasar. Sepanjang perjalanan ia menyanyikan asma asma Allah. Suara nya begitu merdu. Aku terkesima kepadanya. Sungguh, dia adalah teman yang baik diberikan oleh Allah kepada ku. Aku bersyukur kepada Allah, karena Allah telah memberikan ku teman seperti Husna.
“Husna ikut yuk ?” Ajak ku kepada Husna.
“Ah, enggak usah deh, Husna langsung pulang aja. Husna mau bantu umi buat mempersiapkan takziah nanti malam. Husna duluan ya Ukhti ?” Kata Husna pada ku. “Assalammu’alaikum ..” Sambungnya sambil berlalu.
Aku memandangi kepergian nya. Ketika sosok nya mulai menghilang saat dilihat dari kejauhan, aku baru sadar, kerudung Husna masih bertengger dikepala ku. Awalnya aku ingin melepaskan nya tetapi, biar lah. Aku pun merasa nyaman mengenakan nya.
Aku berkeliling sekeliling pasar. Tak sengaja aku lewat didepan toko langganan ku.
“Eh, Thi ! manis dang, kalo pake kerudung, kan kelihatan ayu nya. ” Kata Buk Man pemilik toko langganan ku.
“Hehehe, ibu ni, bisa aja. Terimakasih lah buk..” Jawab ku malu malu.
“Eh, ada baju mode baru ni. Mau gak. Lengan pendek ?” Tawar Buk Man pada ku.
Aku terdiam sejenak. Hati ku serasa bimbang. Hati ku rasanya ingin sekali membelinya, tetapi, dilain sisi, hati ku menolak untuk membelinya.
“Mmm.. Thi lihat dulu lah ya buk, Thi mau kedalam cari yang lain dulu.” Tungkas ku.
“Iya lah, nanti kesini lah ..” Jawab buk Man.
“Insyaallah ..” Jawab ku sambil berlalu.
Aku teruskan penjelajahan ku mengelilingi pasar. Tiba tiba, sayup sayup terdengar suara teriakan wanita tua dibelakang ku. Penasaran, aku berbalik kebelakang. Ternyata, ada sebuah toko kecil disudut pasar ini, yang sedikit berbeda dengan toko yang lain.
“Ayoo lah nak, beli kerudung nya .. 15 ribu dua..” Teriak nya pada ku sambil memegang kerudung persegi berwarna jingga ditangan nya.
“Warna kerudungnya bagus juga. Aku beli gak yah ?” Tanya ku didalam hati.
Aku pun menghampiri ibu ibu paruh baya itu. hati ku pilu melihat ibu itu. Keadaan nya sungguh menyedihkan. Kedua belah kaki nya sudah tidak ada lagi.
“Mmm, beli ini ya buk, yang putih sama yang jingga ini.” Kata ku pada ibu itu
“Oh iya nak.” Jawab ibu itu bersemangat.
“Terimakasih buk.. ” Kata ku sambil menebar senyum ku kepada nya.
“Sama sama nak !” Jawab nya kegirangan.
Aku pun kembali pulang membawa kerudung itu. Aku tidak menyadari, padahal tadi aku ingin membeli baju kaus, tetapi yang ku beli adalah kerudung. Aku hanya tersenyum sendiri melihat diri ku.
“Mungkin ni isyarat dari Allah, ” Bisik ku dalam hati.
Tiba tiba aku teringat akan kata kata ceramah udstazah tadi, aku juga teringat akan lantunan ayat suci al-qur’an yang dibaca kan oleh Husna. Aku ingat, tadi ada salah seorang jama’ah yang memberikan ku al-qur’an mini. Aku langsung mengeluarkan nya dari saku celana ku. Hati ku kembali bergetar.
“Ya Allah, ampuni aku .. Aku telah berbuat banyak dosa ya Allah ..” Bisik ku dengan pelan.
Hari itu juga ku niat kan hati ku untuk berubah. Aku teringat kata kata Husna , yang mengatakan bahwa “Tobat tu jangan ditunda tunda .. ntar kalo dah telat bingung.”. Jujur saja, kata kata itu selalu terngiang ditelinga ku.
“Aku telah membeli kerudung, dan besok, aku akan gunakan kerudung ini !” Teriak ku.
Aku pun bergegas pulang. Tak sabar aku ingin memberitahu Mama dan Kak Hakim.
“Mmmm .. apa ya kata Mama ? Pasti Mama senang dengar aku dah mau berubah.” Tanya ku didalam hati ku.
Saat ku sampai didepan rumah ku, aku melihat sebuah mobil putih. Yang sepertinya itu bukan ha lasing bagi ku. Aku berlari masuk kedalam rumah.
“Assalammu’alaikum, Mama, Kak Hakiiiiiim ….!” Teriak ku cemas.
Suasana didalam rumah begitu menegangkan. Banyak orang yang datang kerumah ku. Mereka masing masing membawa buku buku kecil yang bertuliskan “Surat Yasin”. Seketika aku langsung menangis. Aku berlari memasuki kamar ku.
“Mamaaaaaaaaaaaaaaa !”Teriak ku histeris.
Kak Hakim menghampiri ku. Dia menepuk bahu ku, sambil tersenyum.
“Mama masih ada kok !” Kata nya lembut pada ku.
“Terus tu apa ?” Tanya ku sambil menghapus air mata ku.
“Istri kedua Papa meninggal, kecelakaan tadi pagi.” Jawab kak Hakim tenang.
Aku hanya tersenyum malu. Segera ku keluar, ku kejar Mama, dan ku peluk erat erat tubuh nya.
“Mama jangan pergi dulu ya, lihat dulu Thi berubah dan berhasil banggain Mama.” Kata ku dengan terisak isak.
“Hmmm, Iya sayang, do’ain Mama punya cukup umur. Dah akh, jangan nangis, kita yasinan dulu yuk, do’ain istri kedua Papa.” Jawab Mama Lembut pada ku.**
Malam sesudah acara yasinan dirumah ku, Papa duduk disamping ku.
“Thi, ma’afin Papa iya ?” Kata Papa sambil menepuk bahu ku.
“Kim, mau kan ma’afin Papa ?” Sambung Papa bertanya pada Kak Hakim.
Aku dan Kak Hakim hanya diam. Aku tak mau memaaf kan Papa. Papa udah kejam kepada ku, Kak Hakim, dan Mama. Dan dengan mudah nya dia mengucapkan kata ma’af setelah istri keduanya itu telah tiada. Kemana kesadaran nya selama ini ?! Melupakan anak dan istri pertamanya. Aku sungguh kesal dengan Papa.
“Ayo ma’afin ?” Kata Mama yang tiba tiba muncul diantara kami.
“Mama ni, iiiiih ..!” Kata ku kesal.
Aku tidak sampai hati melihat wajah lembut Mama. Mama sungguh tegar. Mama begitu baik. Mama masih mau tersenyum dan memaafkan Papa, walau Papa sudah sekejam itu pada Mama,dia sungguh seorang wanita tegar! Aku bahagia mempunyai Mama sepertinya.
“Akkuu, aku, aku mau maafin Papa, asal Papa bakal minta maaf sama Mama. Dan kalo Papa kejam lagi, aku gak akan maafin Papa!” Teriak ku.
Kak Hakim menatap ku tajam. Aku tidak tahu, apakah yang ku ucapkan salah ? Tapi, tiba tiba Kak Hakim pergi memasuki kamarnya, sambil membanting pintu kamar.
“Biarkan saja. Dia memang begitu.” Kata Mama lembut.
“Papa merasa bersalah.” Kata Papa dengan raut wajah yang sedikit menyesal.
“Emang Papa salah !!!” Teriak ku didalam hatiku.
Aku pandangi wajah lembut Mama. Aku tidak sampai hati melihat Mama sedih. Air mata ku tiba tiba mengalir membasahi pipi ku. Aku langsung berlari menuju kamar Kak Hakim.
“Kak, Thi gak tega ngelihat Mama. Mama kok baik banget sih kak ?” Kata ku pada Kak Hakim sambil menghapus air mata ku.
“Kak juga gak tega lihat Mama. Mending kakak nge-band aja! Ikut gak ?” Ajak kak Hakim pada ku.
Aku hanya diam memandangi nya. Aku sebenar nya sangat ingin ikut bersama nya, untuk menghilangkan kesedihan ku, tetapi aku teringat kata kata Husna. Segera ku berlari kekamar ku, ku ambil Al-Qur’an dan mukena ku.
“Kak, temenin Thi baca Qur’an yuk ? dari pada nge band, ngabisin uang. Kita cari pahala aja .. sedikit malam ini.. ?” Tawar ku pada kak Hakim dengan senyum ku yang menggoda.
Tetapi Kak Hakim hanya menganggap ku angin lalu. Ia menatap ku tawar. Aku rindu akan suasana harmonis keluarga ku. Secepat kilat ku tutup pintu rumah ku. Menghalangi kepergian Kak Hakim.
“Kakak… Ayolah. Kali ini aja ? ukhti kangen kak, Ukhti pengen kak, Ukhti pengen kak ngajarin Ukhti ngaji irama? Kakak, pleaseeee ?? Percuma Kakak ngeJuarai lomba MTQ, tapi gak pernah kakak amalin!” Rayu ku sambil meneteskan air mata ku.
Kak Hakim tersenyum melihat ku, ia merangkul ku dan melepaskan jaket yang sudah ia kenakan sebelumnya.
“Untuk adik ku tersayang, aku akan ajari kamu ..” Kata kak Hakim tersenyum pada ku.
Aku bahagia. Ternyata, resep pemberian Husna memang manjur. Aku dan kak Hakim mengaji didalam kamar kak Hakim. Lantunan ayat ayat suci terdengar memenuhi rumah. Suara merdu Kak Hakim memaksa Mama dan Papa untuk ikut melantunkan nya.
“Mama sama Papa ikut ya ?” Tanya Mama kepada ku dan Kak Hakim.
Mama masuk kedalam kamar kak Hakim, dan diikuti Papa dibelakangnya. Awalnya kak Hakim menatap Papa dengan sorot mata yang penuh kebencian. Melihat kejadiaan itu, ku lantunkan kembali ayat bacaan kak Hakim barusan. Mungkin itu bisa mengusir syetan yang bersarang dihati Kak Hakim.
“Kak, lanjut lagi ?” Ajak ku.
Kak Hakim menatap ku, aku hanya tersenyum. Aku kira ia akan keluar dari kamar, membanting pintu, dan sebagai nya, tetapi tidak. Ia tersenyum pada ku. Kemudian ia bergeser, memberi tempat untuk Papa. Sungguh, Ya Allah, hidayah mu sungguh besar kepada keluarga ku. Aku, kak Hakim, Mama,dan Papa menghabiskan malam itu bersama,melantunkan ayat ayat suci al-qur’an. Syahdunya malam itu. sungguh baru kali ini ku merasakan kebersamaan yang begitu indah. Hidayah Allah telah tercurahkan kepada keluarga ku.**
Pagi itu, aku beranikan diri ku, aku kuat kan mental ku seperti baja. Aku berdiri didepan kaca. Kupandangi wajah ku yang terbalut kerudung putih, menutupi hingga dada ku. Aku hanya tersenyum. Tekad ku sudah bulat hari ini aku akan memakai kerudung yang ku beli, kutepiskan perasaan takut akan ejekan dan cacian teman teman seperti halnya Husna.
“Ini semua Petunjuk dari Allah, yang disampaikan melalui Husna.” Bisik ku didalam Hati ku.
Saat ku keluar dari kamar ku, aku tak sengaja menjatuhkan gelas minum malam tadi. Kak Hakim langsung keluar dari kamarnya,begitu pula Mama dan Papa.
“Astagfirullah !” Teriak ku.
“Kenapa Thi ?” Tanya kak Hakim pada ku, yang saat itu dia masih mengenakan sarung kesayangan nya.
“Hehehe, gak ada, kesenggol sedikit aja, gelas nya jatuh. Btw, mau ronda pak ? kan udah pagi ?” Ejek ku pada kak Hakim.
Mama dan Papa langsung tertawa melihat Kak Hakim. Kak Hakim pun tersipu malu dan berlari memasuki kamarnya. Kemudian tawa itu tiba tiba terhenti.
“Hmm.. Hmm .. Mau kemana ? Gak sekolah ?” Tanya Mama padaku.
“Yah Mama. Sekolah dong, ni kan udah pakai seragam.” Jawab ku pada Mama sambil memegangi rok ku.
Mama melihat ku heran. Pandangan nya tertuju pada wajah ku. Papa pun seolah tak percaya.
“Apa yang aneh sih ?” Tanya ku dalam hati ku.
Kak Hakim tiba tiba datang memecah keheningan. Ia terlihat tergesa gesa.
“Ukhti ? pakai kerudung siapa tu ? Mau kemana ?” Tanya Kak Hakim mengejek ku.
“Ya kerudung Thi lah, and Thi mau kesekolah dong, masa ke mal” Jawab ku pada kak Hakim.
Semua nya diam melihat ku, mereka seakan tak percaya bahwa aku telah menutup kepala ku dengan balutan kerudung. Tapi, mereka semua harus percaya.
Aku berangkat menuju sekolah bersama Kak Hakim. Dipersimpangan jalan sekolah ku, aku menyuruh Kak Hakim menurun kan ku disana. Aku ingin membelikan sarapan untuk Husna.
Ku lanjutkan perjalanan ku menuju sekolah dengan berjalan kaki.
“Kok sepi sih ? Aku udah telat ya ?Ih, perasaan aku sudah lebih awal.” Bisik ku pada diri ku sendiri.
Aku datang memang lebih awal dari biasanya,ku nikmati saja suasana sepi pagi itu disekolah ku.
Tatapan ku menerawang jauh kemasa lalu. Seandainya aku tidak bertemu Husna, mungkin aku tak seperti ini, dan seandai nya aku mati dalam keadaan kafir, aku tak sanggup mempertanggung jawabkan semua nya dihadapan sang khalik. Ya Allah, ampuni lah dosa hamba selama ini.
Aku terus menelusi koridor sekolah menuju kelas ku. Namun memang tak satu pun siswa yang ku temui. Kulihat penjaga sekolah.
“Assalammu’alaikum, Pak. Kok sampai sekaarang belum ada siswa lain yang datang ya pak ?” Tanya ku.
“Hoalaaah, bagaiman toh ? kan hari ini sekolah akan dipakai untuk ujian guru. ” Jelasnya.
Aduh, kenapa aku bisa sampai lupa. Aku pun pulang dengan lesu. Ku langkah kan kaki ku melewati gerbang sekolah. Padahal rencananya aku akan menunjukkan pada Husna, bahwa aku kini telah berkerudung. Tapi apa boleh buat.
Hari ini tanpa Husna, serasa aneh bagi ku. Tidak ada senda gurau Husna, ceramahnya yang menyenth hati ku, dan tentunya wajah nya yang selalu tersenyum manis pada ku. Aku memutuskan untuk berjalan menuju rumahnya.
“Sekalian ngaji, mending kerumah Husna. Cari pahala!” Kata ku sambil tertawa kecil.
Dengan langkah seribu ku langkah kan kaki ku menuju rumah Husna. Dari kejauhan, ku melihat rumah Husna begitu ramai. Banyak orang berlalu lalang keluar masuk dari rumah Husna.
“Wah, ada acara ni dirumah Husna, yees! Asyik, bisa makan daging gratis dong kalo gitu” Bisik ku didalam hati ku.
Ketika tinggal beberapa langkah lagi menuju rumah Husna, firasat ku mulai tidak enak. Ku semakin mendekat ke rumah Husna. Ternyata dugaan ku salah. Terdengar suara tangisan dari dalam rumah Husna. Aku melihat seorang ibu paruh baya yang menangis tersedu sedu disana. Aku rasa aku kenal baik dengan nya. Ia langsung merangkul ku, ia menggiring ku memasuki rumah menuju sekumpulan orang. Aku yang tak tau apa apa, hanya diam terpaku. Apa yang terjadi ? Tanya ku. Ia hanya diam menatap ku.
Ia menujukan ku sebuah raga yang tergeletak tak bernyawa ditengah kerumunan itu. wajah nya ditutupi kain putih transparan. Didalam hati ku, aku merasa cemas. Ku dekati jenazah itu, orang orang disekitar ku membantu ku membuka kain putih transparan yang menutupi wajah jenazah itu.
Begitu panik nya aku ketika melihat jenazah itu. wajah ku pucat pasi. Degup jantung ku serasa semakin kencang. Tangan ku dingin, dan mulut ku tak sanggup untuk mengucapkan sebuah kalimat.
Hari ini cuaca sangat cerah , namun berubah menjadi badai lebat. Bibir ku memang tak sanggup untuk ku gerakkan. Mata ku menerawang kearah sang surya, cahayanya membuat mata ku gelap. Ku coba menguasai diri ku dengan mengucap istighfar berkali kali. Aku benar benar tak percaya. Aku duduk bersimpuh disamping jenazah Husna, menerima kenyataan yang ada.
Husna telah tiada, penyakit Thalassemia yang bertahun tahun bersarang didirinya kini dengan atas izin Sang Khalik telah merenggut nyawanya. Dan Sang Khalik telah menempatkan Husna ditempat yang sudah disediakan-Nya untuk Husna.
Sebenarnya, aku belum ikhlas menerima ini, aku menyesal tidak dapat menunjukkan pada Husna bahwa aku telah melaksanakan kewajiban ku, dan aku berhasil mendamaikan keluarga ku. Tapi, Sang Khalik telah memangilnya. Aku harus ikhlas melepasnya.
Masih terekam kuat di memori otak ku, saat saat terakhir aku bersamanya. Wajah nya pucat pasi, ia mengatakan kepada ku “Seandainya Islam dapat tegak dengan seorang diri, tak perlu Nabi Musa mengajak Harun, tak perlu Rasullullah mengajak Abu Bakar untuk menemaninya hijrah. Meskipun seorang pengemban dakwah itu adalah orang yang alim, faqih, dan memiliki azam yang kuat, tetapi tetap saja ia adalah seorang manusia yang lemah, dan membutuhkan bantuan saudaranya, meskipun saudaranya memiliki banyak keterbatasan. Anti adalah sahabat terbaik ana Thi, dan sesungguhnya, setiap pertemuan itu pasti akan ada perpisahan. Semoga, suatu saat nanti kita dipertemukan oleh Allah disuatu tempat yang disana tidak akan ada perpisahan. ”
Maha Besar Allah yang telah menghidupkan dan mematikan manusia. Kita sebagai manusia memang mempunyai rencana. Tetapi Allah yang menakdirkan. Biar lah kehendak-Nya berada diatas kehendak kita. Karena itu lah yang terbaik untuk kita. Allah telah memberiku sahabat yang baik seperti Husna dihidup ku, semoga kelak Allah juga yang akan mempertemukan ku dengan nya di jannah-Nya yang abadi. Dan ia akan ku jadikan sebagai SAHABAT DUNIA AKHIRAT KU.**
Sebulan setelah kepergian Husna, aku merasa sepi. Teman ku yang selalu mengingat kan ku jika aku berbuat dosa, mengajak ku mengaji, dan memberikan ku motivasi. Aku hanya duduk diam melihat lihat kenangan ku bersama Husna. Tiba tiba aku tersentak, pandangan ku jauh menerawang koridor sekolah ku, kulihat sosok tegap berwibawa yang menyandang ransel besar dibahunya.
“Siapa tu ? ” Tanyaku pada diriku sendiri.
Sosok itu pun semakin mendekat dengan ku, ketika jarak nya tinggal beberapa meter lagi dari ku, mata ku langsung terbelalak melihatnya. Ku pasang kan langkah seribu ku menuju keruang kelas ku.
“Hmmm.. Hmm, semuanya, harap tenang.” Kata Pak Hasyim, Bapak kepala sekolah ku.
Pak Hasyim berdiri didepan ruang kelas ku, ia mengumumkan tentang guru baru yang akan mengajar dikelas ku. Yah aku tidak terlalu mementingkan itu, karena bagi ku, siapa pun yang mengajar , itu sama saja, yang penting ilmu itu tersampaikan kepada ku.
Saat sosok lelaki muda itu memasuki ruang kelas ku, jujur saja aku kaget bukan main. Mata ku terus memelototi seorang pria tegap mengenakan kemeja coklat yang berdiri tepat disamping Pak Hasyim. Aku mengenal pria itu.
“Astagfirullah, Kak Hakim ?” Kata ku pada diri ku dengan berbisik, seakan tak percaya.
Pak Hasyim mengenalkan pria itu kepada kami.
“Nah anak anak, kenalkan bapak ini adalah guru baru yang akan mengajar dikelas kalian menggantikan Pak Bagyo. Nama nya Pak Hakim.” Tegas Pak Hasyim.
Ya Allah, kak Hakim menjadi guru disekolah ku ? Memang 1 bulan ini dia tidak berada dirumah, dia menyelesaikan study nya untuk mendapatkan gelar Profesornya sebagai sarjana Teknik. Aku hanya diam melihat nya. Seakan tak percaya kakak ku yang dulunya seorang pembangkang, pemalas, yang selalu menghabiskan waktunya dengan aktivitas band nya, kini menjadi guru ? Aku hanya tertawa kecil.
“Assalammu’alaikum anak anak, kenal kan nama saya Muhammad Hakim Alfatih. Kalian semua bisa memanggil saya Pak Hakim.” Jelasnya dengan singkat sambil melirik kearah ku.
Huh, gaya nya memang sudah berubah drastis, dulu tangan nya penuh dilingkari oleh karet karet gelang berwarna hitam, kuku nya panjang, dan pakaian nya selalu bertema kan hal hal yang bathil. Alhamdulillah Ya Allah, engkau telah memberikan hidayah mu kepada kakak ku, Kak Hakim. Aku menjadi rindu dengan Husna.
Malam ini, aku berniat ingin melaksanakan sholat tahajud. Ku stel alarm ku kearah angka 2. Lalu aku berlari keluar kamar ku, menuju kamar Mama dan Papa.
“Assalammu’alaikum, Maaa, Paa, ntar malam sholat tahajud berjama’ah yuk ? Nambah tabungan buat diakhirat ?” Rayu ku sambil tersenyum.
“Wa’aalaikum salam, ok deh , jam berapa ? ” Jawab Mama dan Papa serempak.
“Jam 2 ya,” Jawab ku kegirangan.
Mama dan Papa mengangguk mengiyakan permintaan ku. Aku pun bergegas berlari menuju kamar ku. Ku baringkan tubuh ku diatas ranjang kesayangan ku, ku peluk buku pemberian Husna dahulu kepada ku. Dan ku biarkan angan ku terbang menuju mimpi ku malam ini.*****
Suara deringan alarm ku menguasai seluruh ruangan kamar ku. Aku langsung bergegas keluar kamar ku, mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat tahajud. Mama dan Papa sudah dari tadi menunggu ku.
“Yuk mulai ?” Kata ku pada Mama dan Papa.
“Mmmm,” Jawab Papa pada ku.
“Eh tunggu, sama sama dong!” Teriak Kak Hakim yang tiba tiba muncul.
“Kak Hakim ? Kapan pulang ?” Tanya ku heran.
Kak Hakim hanya tersenyum melihat ku, begitu pula dengan Mama dan Papa. Aku hanya heran menatap nya. Tapi, ya sudahlah, Papa pun memulai sholat.
Didoa’a ku , aku bersyukur kepada Allah, aku beruntung mendapatkan kejernihan pikiran, dan telah diberikan sahabat yang baik didalam hidup ku. Jika saja aku tidak bertemu dengan Husna, aku tidak tau akan bagaimana hidup ku, dan keluarga ku. Berkat pertolongan Allah yang melalui Husna, aku dapat mengembalikan kondisi keluarga ku menjadi utuh kembali. Dan berkat pertolongan Allah juga, aku dapat melaksanakan kewajiban ku sebagai seorang muslimah. Dan diujung do’a ku, aku bersyukur karena telah diberikan pikiran oleh Allah, agar aku dapat berfikir dan membedakan hal yang baik dan buruk. Alhamdulillah.
Sesungguh nya, hidayah itu tidak tergantung akan keberuntungan. Dan perlu dipahami, selama ini, Allah telah memberikan hidayah nya kepada kita. Ya, hidayah itu adalah “Pikiran” kita. Dengan pikiran tadi kita dapat berfikir dan membedakan. Hanya manusia saja yang malas untuk berfikir dan menyadarinya. Yang selalu berangan angan akan hidayah yang akan datang. Padahal sesungguh nya hidayah itu sudah ada pada dirinya sendiri.
Dan dari semua ini, aku belajar akan hidayah pemberian Allah yang telah lama ku mati fungsikan. Didalam hati ku, aku bertekad untuk memajukan generasi Islam selanjutnya. Dan aku akan berusaha meneruskan cita cita Husna, yaitu menyadarkan semua orang akan hidayah Allah.
Label: Cerpen saya (^..^)
@ facebook : Nofiska Vriskova Al-sandoro















